Ia tak tahu apa warna abad mendadatang. Ia tak punya
bayangan apa industri masa depan yang akan mengundang decak kagum dunia.
Tapi satu hal yang ia tahu, bahwa umat manusia akan selalu menghargai dan
menghormati semua bakat yang keluar dari hati dan pikiran. Bakat yang
dipercayai selama ribuan tahun: kecerdasan, kerja keras, disiplin, keberanian,
kesetiaan, dan, mungkin di atas semua, cinta dan semangat kemurahan hati.
Kita tidak membutuhkan sebuah kursus etika untuk mengetahui
apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Percayailah nalurimu, kata Fareed, dan
jujurlah terhadapnya, maka kau bisa membuat hidupmu lebih baik dan sekaligus
mengubah dunia.
Mengubah dunia, tak cukup dengan kepintaran untuk
mendongkrak pertumbuhan ekonomi atau menguasai teknologi paling canggih
untuk mencari planet baru alternatif bumi, tapi kepercayaan pada naluri kita
sendiri dan menjadi jujur terhadapnya.
Keyakinan bahwa segala aturan yang ada di atas kertas
adalah yang benar, dan tindakan pelanggaran sekecil apapun terhadap aturan itu
harus diganjar hukuman.
Tidak ada celah untuk “pemakluman”, tidak ada peluang untuk
“pengampunan”. Karena dengan demikianlah hukum ditegakkan: “mata dibalas dengan
mata, gigi dengan gigi.” Ia hanya terpaku pada “apa”, dan sama sekali tak
tertarik untuk mencari tahu “mengapa”. Seolah segala hal bisa dijelaskan hanya
dengan melihat yang tersaji di atas meja.
Pada kesadaran bahwa manusia adalah makhluk dengan darah
dan daging, yang mengaduh saat sakit dan tergelak saat bahagia. Makhluk yang
hatinya gampang terharu saat melihat derita orang lain, tapi juga mudah
meradang saat hukum—atas nama negara maupun agama—bersikap pongah terhadap
kemanusiaan. Makhluk yang bisa disapa dengan hatinya, meski batu kepalanya.
Makhluk yang selalu punya kemerdekaan penuh atas jiwanya, meski ia sudah
menyerahkan tubuhnya.
Di bawah langit yang berbeda dan berjarak ribuan kilometer,
ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah
pada setan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar