Translate

Pengikut

Jumat, 24 Januari 2014

Kata-kata Bijak Dan Mutiara ala Reformasi

kata-katabijakdanmutiaraalareformasi

Ia tak tahu apa warna abad mendadatang. Ia tak punya bayangan  apa industri masa depan yang akan mengundang decak kagum dunia. Tapi satu hal yang ia tahu, bahwa umat manusia akan selalu menghargai dan menghormati semua bakat yang keluar dari hati dan pikiran. Bakat yang dipercayai selama ribuan tahun: kecerdasan, kerja keras, disiplin, keberanian, kesetiaan, dan, mungkin di atas semua, cinta dan semangat kemurahan hati.

Kita tidak membutuhkan sebuah kursus etika untuk mengetahui apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Percayailah nalurimu, kata Fareed, dan jujurlah terhadapnya, maka kau bisa membuat hidupmu lebih baik dan sekaligus mengubah dunia.

Mengubah dunia, tak cukup dengan kepintaran untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi atau menguasai  teknologi paling canggih untuk mencari planet baru alternatif bumi, tapi kepercayaan pada naluri kita sendiri dan menjadi jujur terhadapnya.

 Keyakinan bahwa segala aturan yang ada di atas kertas adalah yang benar, dan tindakan pelanggaran sekecil apapun terhadap aturan itu harus diganjar hukuman.

Tidak ada celah untuk “pemakluman”, tidak ada peluang untuk “pengampunan”. Karena dengan demikianlah hukum ditegakkan: “mata dibalas dengan mata, gigi dengan gigi.” Ia hanya terpaku pada “apa”, dan sama sekali tak tertarik untuk mencari tahu “mengapa”. Seolah segala hal bisa dijelaskan hanya dengan melihat yang tersaji di atas meja.

Pada kesadaran bahwa manusia adalah makhluk dengan darah dan daging, yang mengaduh saat sakit dan tergelak saat bahagia. Makhluk yang hatinya gampang terharu saat melihat derita orang lain, tapi juga mudah meradang saat hukum—atas nama negara maupun agama—bersikap pongah terhadap kemanusiaan. Makhluk yang bisa disapa dengan hatinya, meski batu kepalanya. Makhluk yang selalu punya kemerdekaan penuh atas jiwanya, meski ia sudah menyerahkan tubuhnya.

Di bawah langit yang berbeda dan berjarak ribuan kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar